Beranda/Blog/Menyusun Peta Jalan Net Zero untuk Perusahaan di Indonesia
Keberlanjutan

Menyusun Peta Jalan Net Zero untuk Perusahaan di Indonesia

Urutan langkah yang berhasil, kesalahan yang mahal, dan cara menjaga klaim tetap dapat diaudit.

Banyak perusahaan memulai program net zero dari langkah yang paling terlihat — membeli sertifikat atau memasang panel — padahal urutan yang benar dimulai dari sesuatu yang jauh lebih membosankan: mengukur.

Langkah 1: Ukur sebelum menargetkan

Target yang ditetapkan sebelum data tersedia hampir selalu meleset, dan mengoreksinya di tengah jalan merusak kredibilitas. Basis pengukuran minimal mencakup konsumsi listrik per fasilitas, bahan bakar untuk proses dan transportasi, serta pembelian yang berkaitan dengan emisi rantai pasok.

Untuk sebagian besar perusahaan di Indonesia, listrik jaringan mendominasi Scope 2 dan menjadi tempat pengurangan paling cepat menghasilkan.

Langkah 2: Kurangi apa yang bisa dikurangi

Efisiensi adalah kWh termurah. Yang tidak dipakai tidak perlu dibeli, tidak perlu dibangkitkan, dan tidak perlu disertifikasi. Temuan audit energi yang berulang — kebocoran udara bertekanan, beban dasar di luar jam kerja, motor tanpa pengatur kecepatan — biasanya balik modal di bawah dua tahun.

Melewatkan tahap ini berarti membayar sertifikat untuk energi yang sebenarnya tidak perlu dikonsumsi. Itu pengeluaran berulang untuk masalah yang punya solusi sekali bayar.

Langkah 3: Bangkitkan sendiri sebatas yang layak

PLTS Atap menurunkan tagihan sekaligus Scope 2, sesuatu yang tidak dilakukan sertifikat. Batasnya adalah luas atap dan profil beban siang hari. Untuk gudang dan pabrik, keduanya biasanya menguntungkan.

Langkah 4: Tutup sisanya dengan sertifikat

Sisa konsumsi yang tidak dapat dipenuhi sendiri ditutup dengan REC pada wilayah jaringan yang sama. Perhatikan penelusurannya: nomor seri, tahun pembangkitan, wilayah, dan bukti pembatalan atas nama perusahaan. Tanpa itu, klaim rawan dipertanyakan saat audit.

Kesalahan yang paling mahal

  • Menargetkan sebelum mengukur. Menghasilkan revisi target yang merusak kepercayaan.
  • Mencampur offset dan REC. Keduanya menangani hal berbeda; offset umumnya tidak diterima untuk Scope 2.
  • Mengabaikan Scope 3. Pada perusahaan manufaktur dan ritel, rantai pasok sering jauh melampaui emisi operasional sendiri.
  • Pengukuran berhenti setelah tahun pertama. Tanpa pemantauan berkelanjutan, penghematan luntur dalam 12–18 bulan.

Menjaga hasilnya bertahan

Program yang bertahan memiliki tiga hal: data yang diperbarui otomatis, satu orang yang bertanggung jawab atas angkanya, dan tinjauan berkala yang membandingkan realisasi terhadap lintasan target.

EPMS EnVisor menyediakan data konsumsi yang dapat diaudit, dan layanan REC menangani sisi sertifikatnya.

Tulisan lainnya