PLTS Atap adalah pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang di atap bangunan dan tersambung ke instalasi listrik yang sudah ada. Tujuannya sederhana: menghasilkan listrik sendiri di siang hari sehingga listrik yang ditarik dari PLN berkurang.
Komponen sistem
- Modul surya — mengubah cahaya menjadi listrik searah. Modul kelas atas saat ini berkapasitas 580–620 Wp per keping.
- Inverter — mengubah listrik searah menjadi bolak-balik 220 V agar bisa dipakai perangkat rumah. Ini komponen yang paling mungkin perlu diganti di tengah umur sistem.
- Mounting — rangka penyangga yang harus cocok dengan jenis atap dan tahan korosi di iklim lembap.
- Proteksi — pengaman arus searah dan bolak-balik, penyalur petir, dan pembumian.
- Monitoring — pemantauan produksi agar penurunan performa terdeteksi sebelum menjadi kerugian.
Berapa listrik yang dihasilkan
Produksi bergantung pada iradiasi lokal, yang biasa dinyatakan sebagai peak sun hour — jumlah jam setara penyinaran penuh per hari. Di Indonesia angkanya berkisar 4,4 sampai 5,3 jam. Setelah dikurangi rugi-rugi inverter, kabel, suhu, dan kotoran, sekitar 22% energi hilang.
Produksi bulanan ≈ kapasitas (kWp) × peak sun hour × 0,78 × 30 hari
Sistem 5 kWp di kota dengan peak sun hour 4,8 menghasilkan sekitar 5 × 4,8 × 0,78 × 30 = 562 kWh per bulan.
Bagian yang paling sering disalahpahami
Angka produksi di atas bukan angka penghematan. Sejak berlakunya aturan PLTS Atap terbaru, kelebihan listrik yang diekspor ke jaringan PLN tidak lagi dikreditkan sebagai pengurang tagihan. Yang bernilai ekonomi hanya listrik yang benar-benar dipakai pada saat diproduksi.
Konsekuensinya: profil pemakaian menjadi faktor penentu. Pabrik yang bekerja pukul 08.00–17.00 bisa menyerap hampir seluruh produksi. Rumah tangga yang penghuninya bekerja di luar dan puncak pemakaiannya malam hari mungkin hanya menyerap 40–45%.
Menghitung ukuran yang tepat
Menambah panel terus-menerus tidak selalu menguntungkan. Setelah produksi melampaui beban siang hari, setiap kWp tambahan makin banyak terbuang sementara biayanya tetap penuh. Ada satu titik di mana nilai investasi paling tinggi, dan melewatinya justru menurunkan imbal hasil.
Kalkulator PLTS EnVisor mencari titik tersebut dengan membandingkan nilai kini bersih di setiap ukuran sistem, bukan dengan mengejar target penghematan tertentu.
Biaya dan perizinan
Biaya terpasang terdiri dari komponen tetap — perizinan, sertifikat laik operasi, proteksi, dan mobilisasi tim — ditambah komponen yang sebanding dengan kapasitas. Karena ada komponen tetap, harga per kWp turun tajam seiring membesarnya sistem: sekitar Rp 14–16 juta per kWp untuk 2–3 kWp, namun bisa di bawah Rp 9 juta per kWp untuk sistem di atas 20 kWp.
Pemasangan yang tersambung jaringan wajib melalui permohonan ke PLN dan memerlukan Sertifikat Laik Operasi. Instalasi tanpa izin berisiko dibongkar dan menghilangkan perlindungan asuransi bila terjadi kebakaran.
Kapan PLTS belum masuk akal
- Tagihan bulanan masih di bawah sekitar Rp 1,5 juta dan pemakaian siang hari rendah.
- Atap ternaungi bangunan atau pohon selama lebih dari dua jam pada jam produktif.
- Struktur atap sudah tua dan perlu diperbaiki lebih dulu.
- Bangunan akan dijual atau direnovasi besar dalam waktu dekat.
Dalam kondisi tersebut, memperbaiki efisiensi biasanya memberi pengembalian jauh lebih cepat. Audit AI EnVisor gratis dan bisa menunjukkan perangkat mana yang paling banyak menyedot biaya.