Renewable Energy Certificate adalah bukti bahwa satu megawatt-jam listrik telah dibangkitkan dari sumber terbarukan dan dimasukkan ke jaringan. Satu sertifikat mewakili 1 MWh, dan hanya boleh diklaim satu kali oleh satu pihak.
Mengapa perusahaan membutuhkannya
Dalam pelaporan emisi, listrik yang dibeli dari jaringan masuk kategori Scope 2. Karena bauran energi jaringan masih didominasi batu bara, angka Scope 2 perusahaan di Indonesia umumnya besar.
Ada dua cara menurunkannya: membangkitkan listrik terbarukan sendiri, atau membeli sertifikat yang membuktikan konsumsi setara telah dipasok dari sumber terbarukan pada jaringan yang sama.
Perbedaan REC dan karbon offset
Keduanya sering tertukar, padahal berbeda mendasar. REC menyatakan asal listrik yang kamu konsumsi dan bekerja pada Scope 2. Karbon offset menyatakan pengurangan emisi di tempat lain — misalnya penanaman hutan — dan tidak mengubah asal listrikmu. Sebagian besar kerangka pelaporan tidak menerima offset sebagai pengganti REC untuk Scope 2.
Kapan REC lebih masuk akal daripada memasang panel
- Bangunan disewa dan atapnya bukan milik perusahaan.
- Luas atap tidak cukup untuk menutup porsi konsumsi yang berarti.
- Target pelaporan harus tercapai tahun ini, sementara pembangunan PLTS butuh waktu berbulan-bulan.
- Operasi tersebar di banyak lokasi kecil sehingga instalasi menjadi tidak efisien.
Sebaliknya, PLTS milik sendiri menurunkan tagihan listrik sekaligus emisi, sedangkan REC hanya menangani emisi dan justru menambah biaya. Untuk fasilitas dengan atap luas dan beban siang hari besar, memasang panel hampir selalu lebih baik secara finansial.
Strategi yang lazim dipakai
- Kurangi dulu. Efisiensi adalah kWh termurah — yang tidak dipakai tidak perlu dibeli maupun disertifikasi.
- Bangkitkan sendiri sebesar yang layak secara ekonomi di atap yang tersedia.
- Tutup sisanya dengan REC untuk konsumsi yang tidak dapat dipenuhi sendiri.
Urutan ini penting. Membeli REC untuk menutupi pemborosan yang sebenarnya bisa dihilangkan adalah pengeluaran berulang untuk masalah yang punya solusi sekali bayar.
Menjaga klaim tetap dapat diaudit
Klaim yang kredibel memerlukan penelusuran: nomor seri sertifikat, tahun pembangkitan, wilayah jaringan, dan bukti pembatalan atas nama perusahaan. Tanpa itu, klaim berisiko dipertanyakan pada audit keberlanjutan. Data konsumsi dari sistem pemantauan memberi sisi permintaan yang cocok dengan sisi pasokan sertifikat.
Lihat layanan REC dan Net Zero EnVisor untuk penyusunan strateginya.